Senin, 22 November 2010

Teori Konstruksivisme Dalam Pembelajaran IPS

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dalam suatu proses pembelajaran, dua unsur yang amat penting adalah metode dan media pembelajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan. Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pengajaran yang sesuai, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media, antara lain tujuan pengajaran, jenis tugas dan respon yang diharapkan siswa setelah pembelajaran berlangsung, dan konteks pembelajaran termasuk karakteristik siswa. Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan guru lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru.
Hamidah (2003:11-14) menjelaskan bahwa untuk memperlancar pencapaian kompetensi dasar dalam pembelajaran misalnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia diperlukan media yang sesuai. Media tersebut banyak ragamnya, antara lain (1) gambar, (2) chart, (3) bagan, (4) tabel, (5)grafik, (6) overhead proyektor (OHP), dan (7) tape recorder. Ragam media ini sangat bergantung pada kompetensi dasar yang akan dipelajari.
Pembelajaran membaca puisi dapat dibantu dengan menggunakan media. Berdasarkan ragam media yang telah disebutkan sebelumnya, pembelajaran membaca puisi dapat menggunakan media berupa gambar, bagan, overhead projector, dan tape recorder.
Untuk lebih memperjelas mengenai pengembangan dan pemilihan media pembelajaran, akan diuraikan secara jelas pada makalah.

B.       Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang dapat dirumuskan sesuai dengan judul makalah di antaranya yaitu :
a)     Bagaimana memilih media pembelajaran yang tepat untuk memperlancar proses pembelajaran?
b)     Apa jenis media yang tepat digunakan dalam proses belajar mengajar?
c)      Bagaimana mengembangkan media pembelajaran dalam proses pembelajaran?

C.      Pembatasan Masalah
Cakupan dari pembahasan makalah pemilihan dan pengembangan cukup luas. Namun penulis memberikan batasan masalah pada makalah ini agar tidak terjadi kerancuan terhadap permasalahan. Makalah ini dibatasi pada implikasi teori konstruktivisme dalam pembelajaran IPS.

D.      Tujuan Penulisan
Ada beberapa tujuan dari penulisan makalah ini, diantaranya sebagai berikut :
a)      Mengetahui maksud dari penerapan teori konstruktivisme dalam pembelajaran.
b)     Mengetahui berbagai ciri-ciri penting dari teori konstruktivisme.
c)      Mengetahui bagaimana apliklasi/ penerapan teori konstruktivisme dalam pembelajaran IPS terkait dengan tema mengenai pengaruh cuaca terhadap kehidupan manusia.

E.       Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah ini di antaranya sebagai berikut :
a)      Menambah wawasan dan pengetahuan baik pembaca maupun penulis sendiri mengenai berbagai teori belajar dan pembelajaran yang dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar.
b)     Sebagai referensi bagi mahasiswa lain dalam penulisan makalah yang ingin mengangkat judul terkait.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Media
Kata media berasal dari bahasa latin Medius yang secara harfiyah berarti “tengah”, perantara atau pengantar. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan.[1] Sementara Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zein menuliskan bahwa media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “Medium” yang secara harfiyah berarti perantara atau pengantar. Dengan demikian dapat dipahami bahwa media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan.[2]
Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu ke penerima pesan. Pesan, sumber pesan, saluran/ media dan penerima pesan merupakan komponen-komponen proses komunikasi. Pesan yang kan dikomunikasikan adalah isi ajaran atau didikan yang ada dalam kurikulum. Sumber pesannya bisa guru, siswa, orang lain ataupun penulis buku dan prosedur media. Salurannya adalah media pendidikan dan penerima pesannya adalah siswa dan juga guru.
Pesan berupa isi ajaran dan didikan yang ada dalam kurikulum dituangkan oleh guru atau sumber lain ke dalam simbol-simbol komunikasi baik simbol verbal (kata-kata lisan ataupun tertulis) maupun simbol non verbal atau visual.[3]
Dari definisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian media merupakan suatu alat yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan dan kemauan anak didik sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya.

B.       Ciri-Ciri Teori Belajar Konstruktivisme
Beberapa ahli konstruktivisme terkemuka berpendapat bahwa pembelajaran yang bermakna itu bermula dengan pengetahuan atau pengalaman awal pada murid.
Rutherford dan Ahlgren berpendapat bahwa murid mempunyai ide mereka sendiri tentang semua hal, di mana ada yang betul dan ada yang salah. Jika pemahaman dan miskonsepsi ini diabaikan atau tidak ditangani dengan baik, pemahaman atau kepercayaan asal mereka itu akan tetap kekal walaupun dalam pemeriksaan mereka mungkin memberi jawapan seperti yang dikehendaki oleh guru.
John Dewey menguatkan lagi teori konstruktivisme ini dengan mengatakan bahawa pendidik yang cakap harus melaksanakan pengajaran dan pembelajaran sebagai proses menyusun atau membina pengalaman secara lanjut/kontinyu. Beliau juga menekankan kepentingan penyertaan murid di dalam setiap aktivitas pengajaran dan pembelajaran.
Dari perspektif epistemologi yang disarankan dalam konstruktivisme fungsi guru akan berubah. Perubahan akan berlaku dalam teknik pengajaran dan pembelajaran, penilaian, penyelidikan dan cara melaksanakan kurikulum. Sebagai contoh ; perspektif ini akan mengubah kaedah pengajaran dan pembelajaran yang menumpu kepada kejayaan murid meniur dengan tepat apa saja yang disampaikan oleh guru kepada kaedah pengajaran dan pembelajaran yang menumpu kepada kejayaan murid membina skema pengkonsepan berdasarkan kepada pengalaman yang aktif. Ia juga akan mengubah tumpuan penyelidikan daripada pembinaan model daripada kaca mata guru kepada pembelajaran sesuatu konsep daripada kaca mata murid.

C.    Penerapan Teori Belajar Konstruktivisme Dalam Pembelajaran IPS Tentang Pengaruh Cuaca Terhadap Kehidupan Manusia

a.      Topik
Pandangan kaum Kontruktivistik meyakinkan bahwa tiap individu mempunyai modal dasar dalam pemikiran dan pengetahuan yang akan dikembangkan dalam kegiatan pembelajaran. Tema yang diangkat mengenai “Pengaruh Cuaca Terhadap Kehidupan Manusia”, hal ini dapat dilihat dengan membandingkan pengalaman siswa sehari – hari sebagai contoh mengapa orang memakai kain yang tipis pada waktu panas dan sebaliknya mengapa orang memakai kain tebal pada waktu dingin serta berbagai contoh lainnya mengenai hal ini.
Guna lebih memberikan warna dalam proses pembelajaran, metode pembelajaran dibuat agar anak dapat meluapkan sebagian besar ide – ide dan pengalamannya terutama dalam diskusi kelas dan metode demonstrasi.

b.     Skenario Pembelajaran
§         Indikator Ketercapaian
ü      Mendeskripsikan pengertian cuaca.
ü      Mendeskripsikan pengaruh cuaca bagi kehidupan manusia.
ü      Menjelaskan apa saja dampak perubahan cuaca bagi kehidupan manusia.
§         Metode Pembelajaran
ü      Ceramah
ü      Tanya jawab
ü      Demonstrasi
ü      Diskusi kelas
§         Skenario Pembelajaran
ü      Kegiatan Awal
Apersepsi (siswa menjawab pertanyaan guru tentang pengaruh cuaca terahadap proses kehidupan manusia).
ü      Kegiatan Inti
o       Siswa mengamati suasana lingkungan di tengah lapangan upacara tentang suasana cuaca hari ini melalui jendela.
o       Siswa mendengar penjelasan guru tentang pengaruh pengertian cuaca.
o       Siswa menentukan penyebab mengapa cuaca dapat mempengaruhi kehidupan manusia secara bergantian.
o       Siswa memberikan contoh kehidupan manusia yang dipengaruhi oleh cuaca secara bergantian.
o       Siswa melakukan teknik bermain peran tentang bagaimana cara orang yang  bertahan/beradaptasi di tengah cuaca dingin.
o       Siswa melakukan teknik bermain peran tentang bagaimana cara orang yang  bertahan/beradaptasi di tengah cuaca yang panas.
o       Siswa menyimpulkan pembelajaran hari ini tentang pengaruh cuaca terhadap kehidupan manusia.
ü      Kegiatan Akhir
o       Siswa merangkum materi pembelajaran hari ini.
o       Tindak lanjut berupa penugasan siswa untuk mencari sebuah artikel di media cetak yang berhubungan dengan perubahan cuaca.





























BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
Pembelajaran yang berhaluan pada pandangan Konstruktivisme menjadikan anak didik sebagai objek pembelajaran aktif dan lebih berkembang dalam penambahan  pengetahuan pada anak didik.
Hal tersebut di atas dapat kita sadari, sebab dunia anak sebagaimana dicetuskan salah satu tokoh pendidikan anak “play is children’s work”, guru secara alamiah akan ikut terhanyut dalam suasana bermain anak. Materi pembelajaranpun harus disesuaikan dengan kondisi anak bukanlah prinsip tabularasa yang memandang anak sebagai objek kosong belaka.
Kurikulum Pendidikan di Indonesia telah sudah mulai dapat beradaptasi dengan keadaan ini untuk mengembangkan dan mempraktekkan teori yang berhaluan pada anak didik walaupun pada kenyataan di lapangan, teori ini kurang berhasil untuk dilaksanakan, terutama untuk menyesuaikan keadaan fisik dan pengetahuan serta media yang sesuai dengan prinsip ini.

B.     Saran
Pemerintah melalui lembaga yang menaungi bidang pendidikan harus mulai terbuka dengan keadaan yang terjadi saat ini. Dengan penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pengajaran (KTSP) tidaklah dapat dilaksanakan amanah yang berat kepada guru sebagai pelaksana pembelajaran yang secara langsung bertatap muka dengan anak didik.
Dengan memperhatikan sarana dan prasarana yang memadai proses pembelajaran akan berhasil tentunya dengan dukungan dari berbagai pihak demi tercapainya cita – cita pendidikan yang luhur.





 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar