Senin, 22 November 2010

PENGEMBANGAN PUSAT SUMBER BELAJAR

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Sejak pertengahan dekade 1970-an terdapat perkembangan yang pesat di bidang dan konsep teknologi pendidikan dan teknologi instruksional (pembelajaran) dalam dunia pendidikan dan pembelajaran, tidak saja di Amerika Serikat tetapi juga di negara-negara lain seperti Canada, Australia, Korea Selatan, Jepang, Singapura, Malaysia, dan tentunya juga di Indonesia. Konsep teknologi pendidikan menekankan kepada individu yang belajar melalui pemanfaatan dan penggunaan berbagai jenis sumber belajar.
Beragamnya jenis sumber belajar, menuntut adanya pengelolaan dan pengorganisasian terhadap sumber belajar tersebut. Hal ini bertujuan agar sumber belajar mudah untuk diakses dan juga dimanfaatkan oleh pihak yang berkepentingan. Oleh karena itu dibentuklah Pusat Sumber Belajar. Timbulnya pusat sumber belajar dimungkinkan pula oleh pertumbuhan berikutnya yang berupa pengakuan akan semakin dibutuhkannya pelayanan dan kegiatan belajar non-tradisional yang membutuhkan ruangan belajar tertentu sesuai dengan kebutuhan, misalnya belajar mandiri dengan modul, simulasi dan permainan, dan sebagainya.
Menurut Sukorini (Warsito,2008:215), Pusat sumber belajar merupakan tempat di mana berbagai jenis sumber belajar dikembangkan, dikelola dan dimanfaatkan untuk membantu meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan pembelajaran.
Merril dan Drob berpendapat bahwa Pusat sumber belajar merupakan suatu aktivitas yang terorganisasi yang berhubungan dengan kurikulum dan pembelajaran pada suatu satuan pendidikan (Warsito, 2008:215). Dengan demikian, Pusat sumber belajar merupakan sarana untuk mengelola dan mengembangkan sumber belajar.
Pusat sumber belajar sering disebut juga sebagai media center, yang diartikan sebagai lembaga yang memberikan fasilitas pendidikan, pelatihan, dan pengenalan berbagai media pembelajaran. Pusat sumber belajar dirancang untuk memberikan kemudahan kepada peserta didik baik secara individu maupun kelompok atau guru untuk memanfaatkan sumber belajar yang tersedia. Dengan demikian, kebutuhan akan sumber belajar dalam proses pembelajaran bisa terpenuhi dengan adanya pusat sumber belajar.
Untuk lebih memperjelas mengenai pengembangan pusat sumber belajar akan diuraikan secara jelas pada makalah.

B.       Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang dapat dirumuskan sesuai dengan judul makalah di antaranya yaitu :
a)     Bagaimana perkembangan pusat sumber belajar yang telah diupayakan pemanfaatannya hingga dewasa ini?
b)     Apa fungsi dan peran pusat sumber belajar dalam meningkatkan kinerja pembelajaran?
c)      Bagaimana tahap- tahap pengembangan pusat sumber belajar?

C.      Pembatasan Masalah
Cakupan dari pembahasan makalah pemilihan dan pengembangan cukup luas. Namun penulis memberikan batasan masalah pada makalah ini agar tidak terjadi kerancuan terhadap permasalahan. Makalah ini dibatasi pada perkembangan, fungsi dan pengembangan pusat sumber belajar.


D.      Tujuan Penulisan
Ada beberapa tujuan dari penulisan makalah ini, diantaranya sebagai berikut :
a)      Mengetahui mengenai perkembangan pusat sumber belajar dalam pemanfaatannya di dunia pendidikan.
b)     Mengetahui fungsi dan peranan pusat sumber belajar dalam proses kegiatan pembelajaran.
c)      Mengetahui tahapan- tahapan dari pengembangan pusat sumber belajar.

E.       Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah ini di antaranya sebagai berikut :
a)      Menambah wawasan dan pengetahuan baik pembaca maupun penulis sendiri mengenai berbagai pengembangan pusat sumber belajar.
b)     Sebagai referensi bagi mahasiswa lain dalam penulisan makalah yang ingin mengangkat judul terkait.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Perkembangan Pusat Sumber Belajar
Salah satu sumber belajar yang sudah lama diperlukan – hingga sampai sekarang masih tetap demikian – dalam setiap lembaga pendidikan atau pelatihan adalah perpustakaan (library). Dalam penyelenggaraan suatu perguruan tinggi, pernah dikatakan bahwa perpustakaan adalah jantung suatu universitas. Dikatakan demikian karena perpustakaan yang mengkoleksi berbagai macam buku dan journal dari pelbagai disiplin ilmu pengetahuan sungguh sangat diperlukan oleh suatu universitas. Salah satu ukuran yang menentukan mutu suatu universitas adalah seberapa banyak koleksi buku-buku di dalam perpustakaannya. Universitas-universitas yang ternama di dunia selalu mempunyai perpustakaan pusat (main library) yang besar dengan koleksi buku-buku yang sangat banyak jumlahnya hingga ratusan ribu sampai jutaan buku dalam berbagai jenis disiplin ilmu pengetahuan dalam terbitan yang relatif baru ditambah dengan koleksi berbagai jenis jurnal ilmiah. Di samping itu di universitas tersebut terdapat juga adanya perpustakaan fakultas (school library) di setiap fakultasnya untuk mendukung kegiatan belajar para mahasiswanya di masing-masing fakultas.
Pada awal 1960-an, khususnya di Amerika Serikat, beberapa perpustakaan universitas diubah namanya menjadi Pusat Sumber Belajar (Learning Resource Centre). Pusat Sumber Belajar ini memberikan layanan yang diperluas meliputi penelitian, pembelajaran, evaluasi belajar, pengembangan perkuliahan, layanan pelatihan, produksi bahan belajar di samping melaksanakan layanan bahan cetakan dan audio visual yang biasa dilaksanakan oleh perpustakaan, seperti seleksi (pemilihan), distribusi, dan penggunaan semua bahan belajar dan fasilitas. Tujuan yang utama adalah memperbaiki proses belajar peserta belajar dengan membantu mereview hasil penelitian, dan memilih metode pembelajaran terbaik dan bahan yang paling efektif yang akan diajarkan.
Konsep Pusat Sumber Belajar mengubah organisasi informasi dan pengelolalaan perpustakaan dari “lingkungan hanya bahan cetak” menjadi “lingkungan bahan cetak dengan bahan non cetak” termasuk pada akhirnya semua teknologi yang lebih baru seperti bahan rekaman yang dibaca dengan mesin, CD-ROM, video disc. Melalui sumber dan layanan yang baru, pustakawan dapat membantu para pengajar mereview metode pembelajaran mereka dan menyarankan praktek yang lebih kreatif. Penyiapan bahan belajar yang baru, penyediaan bahan-bahan dan peralatan audio visual untuk menunjang perkuliahan menjadi suatu program bersama dengan layanan koleksi dan referensi perpustakaan yang sudah ada.
Pengelolaan perpustakaan berubah karena dibutuhkan jenis-jenis personalia yang baru di samping staf perpustakaan yang sudah ada. Personalia yang dibutuhkan adalah yang mempunyai keterampilan dan pengetahuan dalam desain pembelajaran, pengetahuan dan keterampilan dalam pengembangan bahan (media) pembelajaran, penyiapan bahan belajar, keterampilan dalam mengakses data atau informasi melalui internet. Tentu saja dibutuhkan juga staf teknis yang akan merawat agar semua peralatan dapat tetap berfungsi setiap saat digunakan.
Pusat Sumber Belajar berfungsi melakukan pengadaan, pengembangan, produksi, pelatihan dan pelayanan dalam pemanfaatan sumber belajar (terutama bahan dan alat) untuk kegiatan pendidikan dan pembelajaran dibandingkan dengan perpustakaan yang hanya berfungsi melakukan pengadaan dan pelayanan pemanfaatan sumber belajar dalam rangka kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Dengan demikian perpustakaan mempunyai fungsi yang lebih sempit jika dibandingkan dengan fungsi Pusat Sumber Belajar, karena hanya melaksanakan sebagian saja fungsi yang dilaksanakan oleh Pusat Sumber Belajar..
B.       Fungsi Pusat Sumber Belajar
Pengembangan sistem pembelajaran adalah suatu proses yang sistematis dan terus menerus, yang akan membantu pengajaran dalam mengembangkan pengalaman-pengalaman belajar yang memungkinkan partisipasi aktif siswa di dalam proses belajar-mengajar. Di sinilah letak hubungan yang penting antara pusat sumber belajar dengan pengembangan sistem pembejaran. Segala sumber dan bahan serta personil yang ada di dalam pusat sumber belajar dimaksudkan untuk membantu efektifitas dan efisiensi interaksi siswa dan pengajar dalam proses pembelajaran.
Secara umum, tujuan dari Pusat sumber belajar adalah untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan proses belajar mengajar melalui pengembangan sistem pembelajaran. Hal ini dilaksanakan dengan menyediakan berbagai macam pilihan untuk menunjang kegiatan kelas tradisional dan untuk mendorong penggunaan cara-cara yang baru (non-tradisional), yang paling sesuai untuk mencapai tujuan program akademis dan kewajiban-kewajiban institusional yang direncanakan lainnya.
Selain itu, secara khusus pusat sumber belajar bertujuan untuk :
a)       menyediakan berbagai macam pilihan komunikasi untuk menunjang kegiatan kelas tradisional.
b)     Mendorong penggunaan cara-cara belajar baru yang paling cocok untuk mencapai tujuan program akademis dan kewajiban institusional lainnya.
c)      Memberikan pelayanan dalam perencanaan, produksi, operasional, dan tindak lanjut untuk pengembangan sistem pembelajaran yang ada.
d)     Melaksanakan latihan untuk para tenaga pengajar mengenai pengembangan sistem pembelajaran dan integrasi teknologi dalam proses pembelajaran.
e)      Memajukan usaha penelitian yang perlu tentang penggunaan media pendidikan.
f)       Menyebarkan informasi yang akan membantu memajukan penggunaan berbagai macam sumber belajar dengan lebih efektif dan efesien.
g)     Menyediakan pelayanan produksi bahan ajar.
h)     Memberikan konsultasi untuk modifikasi dan desai fasilitas sumber belajar.
i)       Membantu mengembangkan standar penggunaan sumber-sumber belajar.
j)        Menyediakan pelayanan pemeliharaan atas berbagai macam peralatan.
k)     Membantu dalam pemilihan dan pengadaan bahan-bahan media dan peralatannya.
l)       Menyediakan pelayanan evaluasi untuk membantu menentukan efektifitas berbagai cara pengajaran.
Berdasarkan tujuan umum dan tujuan khusus di atas, pusat sumber belajar mempunyai fungsi dan kegiatan sebagai berikut :
a. Fungsi pengembangan sistem intruksional
Fungsi ini membantu jurusan atau departemen dan staf tenaga pengajar secara individual di dalam membuat rancangan (desain) dan pemilihan options (pilihan) untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses belajar dan mengajar, yang meliputi : (a) perencanaan kurikulum, (b) identifikasi pilihan program pembelajaran, (c) seleksi peralatan dan bahan, (d) perkiraan biaya, (d) pelatihan bagi tenaga pengajar, (e) perencanaan program, (f) prosedur evaluasi, dan (g) revisi program.
b. Fungsi Informasi
Ada beberapa macam sumber informasi, seperti pusat komputer (puskom), bahan bacaan, radio, televisi, perorangan, lembaga, dan sebagainya. Jika informasi yang diperlukan hanya sedikit dan yang memerlukannya juga sedikit, maka bahan informasinya dapat disimpan dalam satu file. Jika yang memerlukannnya lebih banyak, maka perlu dibentuk perpustakaan lengkap dengan katalognya. Bahkan jika lebih banyak lagi, harus menggunakan data base computer.
c. Fungsi pelayanan media
Fungsi ini berhubungan dengan pembuatan rencana program media dan pelayanan pendukung yang dibutuhkan oleh staf pengajar dan pelajar, yang meliputi : (a) sistem penggunaan media untuk kelompok besar, (b) sistem penggnaan media untuk kelompok kecil, (c) fasilitas danprogram belajar sendiri (individual), (d) pelayanan perpustakaan media/bahan pengajaran, (e) pelayanan pemeliharaan dan peminjaman/sirkulasi, dan (f) pelayanan pembelian bahan-bahan dan peralatan.
d. Fungsi Produksi
Fungsi ini berhubungan dengan penyediaan materi dan bahan pelajaran yang tidak dapat diperoleh melalui sumber komersial, yang meliputi : (a) penyimpanan karya seni asli (original atwork) untuk tujuan pembelajaran, (b) produksi transparansi untuk OHP, (c) produksi fotografi (slide, filmstrip, foto, dan lain-lain) untuk presentasi, (d) pelayanan reproduksi fotografi, (e) pemrograman, pengeditan, dan reproduksi rekaman, dan (f) pemrogaraman, pemeliharaan, dan pengembangan sistem radio dan televisi di kampus.
e. Fungsi administratif
Fungsi ini berhubungan dengan cara-cara bagaimana tujuan dan prioritas program dapat tercapai. Fungsi ini berhubungan dengan semua segi program yang dilaksanakan dan akan melibatkan semua staf dan pemakai dengan cara-cara yang sesuai. Hal ini meliputi beberapa kegiatan sebagai berikut : (a) supervisi personalia untuk media, (b) pengembangan koleksi media untuk program pembelajaran, (c) pengembangan spesifikasi pendidikan untuk fasilitas baru, (d) pengembagan sistem peminjaman/sirkulasi, (e) pemeliharaan kelangsungan pelayanan produksi bahan pembelajaran, dan (f) penyediaan pelayanan untuk pemeliharaan bahan, peralatan, dan fasilitas.

C. Pengembangan Pusat Sumber Belajar
Seiring dengan perannya yang penting dalam proses pembelajaran, maka perlu adanya upaya pengembangan pusat sumber belajar. Prinsip pengembangan pusat sumber belajar didasarkan pada tercapainya tujuan pembelajaran dan adanya kemudahan bagi peserta didik dalam proses belajar. Dalam mendesain dan mengembangkan suatu pusat sumber belajar, diperlukan suatu proses yang sistematis (teratur) dan sistemis (menyeluruh).
Strategi pengembangan pusat sumber belajar terdiri dari empat tahap, yaitu :
  1. Tahap analisis kebutuhan
Tahap ini merupakan tahap awal dalam proses pengembangan pusat sumber belajar. Pada tahap ini, dilakukan analisis mengenai adanya perbedaan antara keadaan yang diharapkan dengan keadaan yang terjadi. Hasil dari analisis ini adalah ditemukannya masalah, yang kemudian masalah tersebut akan dicari pemecahannya. Hasil ini diharapkan dapat memberikan gambaran nyata mengenai pengelolaan dan pemberdayaan sumber-sumber belajar yang telah ada terhadap pencapaian tujuan dan kompetensi pembelajaran.
  1. Tahap pengembangan sarana dan program
Tahap pengembangan sarana pusat sumber belajar harus berorientasi pada lima fungsi dari pusat sumber belajar, sebagaimana yang telah dijelaskan di awal. Hal ini dilakukan agar pengembangan pusat sumber belajar tidak keluar dari fungsi yang sebenarnya. Seiring dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan teknologi, terutama perkembangan teknologi informasi, maka pengembangan pusat sumber belajar juga harus berorientasi pada pemanfaatan teknologi informasi. Pengadaan sarana-sarana yang ada harus sudah menggunakan sistem jaringan yang terintegrasi dengan sumber-sumber belajar yang dibutuhkan. Selain itu, pengadaan sarana pendukung yang ada dalam pusat sumber belajar merupakan hal yang tidak boleh dilupakan.
Selain pengembangan sarana, juga dilakukan pengembangan program pusat sumber belajar yang tentu saja berorientasi pada tujuan pusat sumber belajar. Dalam pengembangan program, dibutuhkan adanya sumber daya manusia yang berkualitas dan professional. Hal ini dimaksudkan agar pengembangan program bisa memenuhi kebutuhan yang diharapkan. Sebagai contoh pengembangan program adalah penambahan sumber belajar, berupa media dan bahan ajar yang berbentuk cetak ataupun no cetak. Selain itu juga mengadakan pelatihan-pelatihan pengembangan media pembelajaran.
  1. Tahap implementasi
Tahap implementasi pusat sumber belajar merupakan tahap aplikasi atau pendayagunaan pusat sumber belajar. Dalam pelaksanaannya, pusat sumber belajar yang akan digunakan hendaklah disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan satuan pendidikan atau lembaga yang akan mengembangkannya. Hal ini dimaksudkan agar keberadaan pusat sumber belajar tidak menjadi permasalahan bagi lembaga yang bersangkutan. Sebagai contoh, sebuah lembaga pendidikan yang memiliki tempat terbatas, maka dapat mendirikan dan mengembangkan pusat sumber belajar secara bertahap, sesuai dengan tempat yang tersedia. Untuk kemudian, setelah kemampuan lembaga tersebut bertambah, maka pengembangan pusat sumber belajar dapat terus dilakukan.
  1. Tahap pengelolaan
Pengelolaan pusat sumber belajar adalah kegiatan yang berkaitan dengan pengadaan, pengembangan/produksi, dan pemanfaatan sumber belajar serta upaya untuk terus memperbaiki dan meningkatkan sarana dan program-programnya. Hal ini tentu saja membutuhkan pengelola yang profesional dan berkualitas. Untuk memudahkan proses pengelolaan, maka perlu adanya suatu pengorganisasian tenaga kerja yang sudah memiliki sistem kerja masing-masing. Struktur organisasi pusat sumber belajar disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan tenaga kerja yang ada.
 BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Beragamnya jenis sumber belajar, menuntut adanya pengelolaan dan pengorganisasian terhadap sumber belajar tersebut. Hal ini bertujuan agar sumber belajar mudah untuk diakses dan juga dimanfaatkan oleh pihak yang berkepentingan. Oleh karena itu dibentuklah Pusat Sumber Belajar.
Pusat Sumber Belajar berfungsi melakukan pengadaan, pengembangan, produksi, pelatihan dan pelayanan dalam pemanfaatan sumber belajar (terutama bahan dan alat) untuk kegiatan pendidikan dan pembelajaran dibandingkan dengan perpustakaan yang hanya berfungsi melakukan pengadaan dan pelayanan pemanfaatan sumber belajar dalam rangka kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Perpustakaan mempunyai fungsi yang lebih sempit jika dibandingkan dengan fungsi Pusat Sumber Belajar, karena hanya melaksanakan sebagian saja fungsi yang dilaksanakan oleh Pusat Sumber Belajar. Perpustakan terutama berfungsi memberikan layanan pemanfaatan bahan-bahan belajar yang dikoleksinya sebagai sumber belajar bagi pelaksanaan proses belajar dan pembelajaran, sedangkan Pusat Sumber Belajar mengemban fungsi yang lebih luas yaitu selain memberikan layanan pemanfaatan media dan bahan belajar yang dikoleksinya untuk pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
Strategi pengembangan pusat sumber belajar terdiri dari 4 tahapan yaitu ; (a) tahap analisis kebutuhan, (b) tahap pengembangan sarana dan program, (c) tahap implementasi, dan (d) tahap pengelolaan.

B.     Saran
Pusat sumber belajar dengan fungsinya untuk menyediakan informasi di setiap daerah harus diupayakan pemanfaatannya secara optimal. Pengembangan pusat sumber belajar di daerah yang menuntut peningkatan metode belajar tradisional untuk beralih kepada metode non tradisional yaitu dengan belajar mandiri, modul, simulasi dan permainan. Untuk itu, pusat sumber belajar harus diupayakan pengembangannya dengan lebih optimal demi meningkatkan mutu pembelajaran.
 DAFTAR PUSTAKA
Association for Educational Comunication Technology (AECT).  1986.  Definisi Teknologi Pendidikan (Penerjemah Yusufhadi Miarso).  Jakarta : C.V. Rajawali.

Dimyati, M ; Mudjiono.  1999.  Belajar dan Pembelajaran.  Jakarta :  Rineka Cipta.

Heinich, R. dkk.  1996.  Instructional Media and Technologies for Learning.  Englewood Cliffs, New Jersey :  Merril-an imprint of Prentice Hall.

Kemp, Jerold E.  1975.  Planning & Producing Audio Visual Materials.  New York : Thomas Y. Crowell.

Teori Konstruksivisme Dalam Pembelajaran IPS

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dalam suatu proses pembelajaran, dua unsur yang amat penting adalah metode dan media pembelajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan. Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pengajaran yang sesuai, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media, antara lain tujuan pengajaran, jenis tugas dan respon yang diharapkan siswa setelah pembelajaran berlangsung, dan konteks pembelajaran termasuk karakteristik siswa. Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan guru lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru.
Hamidah (2003:11-14) menjelaskan bahwa untuk memperlancar pencapaian kompetensi dasar dalam pembelajaran misalnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia diperlukan media yang sesuai. Media tersebut banyak ragamnya, antara lain (1) gambar, (2) chart, (3) bagan, (4) tabel, (5)grafik, (6) overhead proyektor (OHP), dan (7) tape recorder. Ragam media ini sangat bergantung pada kompetensi dasar yang akan dipelajari.
Pembelajaran membaca puisi dapat dibantu dengan menggunakan media. Berdasarkan ragam media yang telah disebutkan sebelumnya, pembelajaran membaca puisi dapat menggunakan media berupa gambar, bagan, overhead projector, dan tape recorder.
Untuk lebih memperjelas mengenai pengembangan dan pemilihan media pembelajaran, akan diuraikan secara jelas pada makalah.

B.       Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang dapat dirumuskan sesuai dengan judul makalah di antaranya yaitu :
a)     Bagaimana memilih media pembelajaran yang tepat untuk memperlancar proses pembelajaran?
b)     Apa jenis media yang tepat digunakan dalam proses belajar mengajar?
c)      Bagaimana mengembangkan media pembelajaran dalam proses pembelajaran?

C.      Pembatasan Masalah
Cakupan dari pembahasan makalah pemilihan dan pengembangan cukup luas. Namun penulis memberikan batasan masalah pada makalah ini agar tidak terjadi kerancuan terhadap permasalahan. Makalah ini dibatasi pada implikasi teori konstruktivisme dalam pembelajaran IPS.

D.      Tujuan Penulisan
Ada beberapa tujuan dari penulisan makalah ini, diantaranya sebagai berikut :
a)      Mengetahui maksud dari penerapan teori konstruktivisme dalam pembelajaran.
b)     Mengetahui berbagai ciri-ciri penting dari teori konstruktivisme.
c)      Mengetahui bagaimana apliklasi/ penerapan teori konstruktivisme dalam pembelajaran IPS terkait dengan tema mengenai pengaruh cuaca terhadap kehidupan manusia.

E.       Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah ini di antaranya sebagai berikut :
a)      Menambah wawasan dan pengetahuan baik pembaca maupun penulis sendiri mengenai berbagai teori belajar dan pembelajaran yang dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar.
b)     Sebagai referensi bagi mahasiswa lain dalam penulisan makalah yang ingin mengangkat judul terkait.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Media
Kata media berasal dari bahasa latin Medius yang secara harfiyah berarti “tengah”, perantara atau pengantar. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan.[1] Sementara Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zein menuliskan bahwa media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “Medium” yang secara harfiyah berarti perantara atau pengantar. Dengan demikian dapat dipahami bahwa media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan.[2]
Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu ke penerima pesan. Pesan, sumber pesan, saluran/ media dan penerima pesan merupakan komponen-komponen proses komunikasi. Pesan yang kan dikomunikasikan adalah isi ajaran atau didikan yang ada dalam kurikulum. Sumber pesannya bisa guru, siswa, orang lain ataupun penulis buku dan prosedur media. Salurannya adalah media pendidikan dan penerima pesannya adalah siswa dan juga guru.
Pesan berupa isi ajaran dan didikan yang ada dalam kurikulum dituangkan oleh guru atau sumber lain ke dalam simbol-simbol komunikasi baik simbol verbal (kata-kata lisan ataupun tertulis) maupun simbol non verbal atau visual.[3]
Dari definisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian media merupakan suatu alat yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan dan kemauan anak didik sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya.

B.       Ciri-Ciri Teori Belajar Konstruktivisme
Beberapa ahli konstruktivisme terkemuka berpendapat bahwa pembelajaran yang bermakna itu bermula dengan pengetahuan atau pengalaman awal pada murid.
Rutherford dan Ahlgren berpendapat bahwa murid mempunyai ide mereka sendiri tentang semua hal, di mana ada yang betul dan ada yang salah. Jika pemahaman dan miskonsepsi ini diabaikan atau tidak ditangani dengan baik, pemahaman atau kepercayaan asal mereka itu akan tetap kekal walaupun dalam pemeriksaan mereka mungkin memberi jawapan seperti yang dikehendaki oleh guru.
John Dewey menguatkan lagi teori konstruktivisme ini dengan mengatakan bahawa pendidik yang cakap harus melaksanakan pengajaran dan pembelajaran sebagai proses menyusun atau membina pengalaman secara lanjut/kontinyu. Beliau juga menekankan kepentingan penyertaan murid di dalam setiap aktivitas pengajaran dan pembelajaran.
Dari perspektif epistemologi yang disarankan dalam konstruktivisme fungsi guru akan berubah. Perubahan akan berlaku dalam teknik pengajaran dan pembelajaran, penilaian, penyelidikan dan cara melaksanakan kurikulum. Sebagai contoh ; perspektif ini akan mengubah kaedah pengajaran dan pembelajaran yang menumpu kepada kejayaan murid meniur dengan tepat apa saja yang disampaikan oleh guru kepada kaedah pengajaran dan pembelajaran yang menumpu kepada kejayaan murid membina skema pengkonsepan berdasarkan kepada pengalaman yang aktif. Ia juga akan mengubah tumpuan penyelidikan daripada pembinaan model daripada kaca mata guru kepada pembelajaran sesuatu konsep daripada kaca mata murid.

C.    Penerapan Teori Belajar Konstruktivisme Dalam Pembelajaran IPS Tentang Pengaruh Cuaca Terhadap Kehidupan Manusia

a.      Topik
Pandangan kaum Kontruktivistik meyakinkan bahwa tiap individu mempunyai modal dasar dalam pemikiran dan pengetahuan yang akan dikembangkan dalam kegiatan pembelajaran. Tema yang diangkat mengenai “Pengaruh Cuaca Terhadap Kehidupan Manusia”, hal ini dapat dilihat dengan membandingkan pengalaman siswa sehari – hari sebagai contoh mengapa orang memakai kain yang tipis pada waktu panas dan sebaliknya mengapa orang memakai kain tebal pada waktu dingin serta berbagai contoh lainnya mengenai hal ini.
Guna lebih memberikan warna dalam proses pembelajaran, metode pembelajaran dibuat agar anak dapat meluapkan sebagian besar ide – ide dan pengalamannya terutama dalam diskusi kelas dan metode demonstrasi.

b.     Skenario Pembelajaran
§         Indikator Ketercapaian
ü      Mendeskripsikan pengertian cuaca.
ü      Mendeskripsikan pengaruh cuaca bagi kehidupan manusia.
ü      Menjelaskan apa saja dampak perubahan cuaca bagi kehidupan manusia.
§         Metode Pembelajaran
ü      Ceramah
ü      Tanya jawab
ü      Demonstrasi
ü      Diskusi kelas
§         Skenario Pembelajaran
ü      Kegiatan Awal
Apersepsi (siswa menjawab pertanyaan guru tentang pengaruh cuaca terahadap proses kehidupan manusia).
ü      Kegiatan Inti
o       Siswa mengamati suasana lingkungan di tengah lapangan upacara tentang suasana cuaca hari ini melalui jendela.
o       Siswa mendengar penjelasan guru tentang pengaruh pengertian cuaca.
o       Siswa menentukan penyebab mengapa cuaca dapat mempengaruhi kehidupan manusia secara bergantian.
o       Siswa memberikan contoh kehidupan manusia yang dipengaruhi oleh cuaca secara bergantian.
o       Siswa melakukan teknik bermain peran tentang bagaimana cara orang yang  bertahan/beradaptasi di tengah cuaca dingin.
o       Siswa melakukan teknik bermain peran tentang bagaimana cara orang yang  bertahan/beradaptasi di tengah cuaca yang panas.
o       Siswa menyimpulkan pembelajaran hari ini tentang pengaruh cuaca terhadap kehidupan manusia.
ü      Kegiatan Akhir
o       Siswa merangkum materi pembelajaran hari ini.
o       Tindak lanjut berupa penugasan siswa untuk mencari sebuah artikel di media cetak yang berhubungan dengan perubahan cuaca.





























BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
Pembelajaran yang berhaluan pada pandangan Konstruktivisme menjadikan anak didik sebagai objek pembelajaran aktif dan lebih berkembang dalam penambahan  pengetahuan pada anak didik.
Hal tersebut di atas dapat kita sadari, sebab dunia anak sebagaimana dicetuskan salah satu tokoh pendidikan anak “play is children’s work”, guru secara alamiah akan ikut terhanyut dalam suasana bermain anak. Materi pembelajaranpun harus disesuaikan dengan kondisi anak bukanlah prinsip tabularasa yang memandang anak sebagai objek kosong belaka.
Kurikulum Pendidikan di Indonesia telah sudah mulai dapat beradaptasi dengan keadaan ini untuk mengembangkan dan mempraktekkan teori yang berhaluan pada anak didik walaupun pada kenyataan di lapangan, teori ini kurang berhasil untuk dilaksanakan, terutama untuk menyesuaikan keadaan fisik dan pengetahuan serta media yang sesuai dengan prinsip ini.

B.     Saran
Pemerintah melalui lembaga yang menaungi bidang pendidikan harus mulai terbuka dengan keadaan yang terjadi saat ini. Dengan penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pengajaran (KTSP) tidaklah dapat dilaksanakan amanah yang berat kepada guru sebagai pelaksana pembelajaran yang secara langsung bertatap muka dengan anak didik.
Dengan memperhatikan sarana dan prasarana yang memadai proses pembelajaran akan berhasil tentunya dengan dukungan dari berbagai pihak demi tercapainya cita – cita pendidikan yang luhur.